Ingatlah bahwa hoax belum tentu dibuat oleh seseorang yang berseberangan. Bisa jadi hoax juga dibuat oleh pihak yang seolah jadi korban. Tujuannya paling tidak ada dua macam. Pertama, untuk mengesankan bahwa si penjahat adalah korban fitnah. Dan yang kedua untuk menjebak penyeru kebaikan agar terjerumus menyebarkan informasi salah, sehingga kebenaran yang disampaikan tidak dipercaya orang lagi. 

Saya yakin, mayoritas kawan-kawan yang menyebarkan hoax di beranda medsosnya adalah karena ia tidak tahu bahwa itu adalah hoax. Dan saya percaya bahwa sebagian besar orang yang menuduh HOAX pada sebuah postingan juga tidak punya ilmu tentang bagaimana membedakan informasi hoax dengan fakta. 

Makanya tak jarang sebuah fakta tapi dituduh hoax sedangkan sebuah hoax dipercaya sebagai fakta. 

Jadi, bagaimanakah kita harus bersikap di media sosial ini? Jawabannya adalah jangan bergampang-gampang menyebarkan sebuah informasi bila kita belum yakin bahwa itu adalah informasi yang benar. Dan jangan gampang menuduh sebuah postingan sebagai hoax bila kita belum punya bukti yang kuat. 

Kalaupun misalnya ada hal menarik yang ingin kita sampaikan sedangkan kita belum tahu bahwa itu benar ataukah salah, maka bila tetap ingin membagikannya lihatlah sumber situsnya. Kalau itu situs resmi yang punya kredibilitas, paling tidak kita sudah berusaha untuk tidak asal kutip atau share. 

Atau bisa pula kita beri narasi yang sifatnya mempertanyakan kebenaran informasi dimaksud kepada khalayak. Jangan malah memberikan provokasi dan tambahan kalimat yang berisifat kasar. 

Namun dari semua itu yang paling aman dan paling selamat tetaplah mereka yang hanya membagikan postingan yang sudah diyakini kebenarannya serta berasal dari sumber yang jelas dan terpercaya… 

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *