“Berharap pada manusia bisa sakit hati dan bahkan bisa kena bully. Maka berharaplah hanya kepada Allah saja. Persoalann ada hak kita yang tidak ditunaikan oleh siapapun yang berkewajiban memberikannya, biar itu menjadi urusan mereka dengan Yang Memberi amanah yakni Allah Subahanu wa Ta’ala. Percayalah Dia Maha Adil dan tak pernah ingkar janji.” 

Sedih sudah pasti, melihat begitu banyak warga kota Samarinda menderita akibat terkena bencana banjir. Apalagi sebagian dari mereka adalah keluarga dan kerabat saya sendiri. Dan serasa ada yang mengganjal di hati ini ketika menyadari bahwa saya sendiri tidak bisa membantu banyak untuk meringankan penderitaan mereka. 

Bantuan yang banyak dan tidak ada habis-habisnya yang bisa saya berikan hanyalah do’a. Ya, ini bukan lelucon karena memang tidak lucu. Tapi memang doa yang selalu menggema di hati dan yang terucap di lisan saat melihat langsung di tempat-tempat yang dilanda banjir maupun dari menyaksikan melalui media sosial. 

Jujur, saya tidak berani menyalahkan pemerintah dalam hal ini, meski menurut ajaran agama yang saya anut bahwa pemimpin itu bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Saya berbaik sangka saja, bahwa pemerintah kota maupun pemerintah provinsi telah beruasaha sekuat tenaga melakukan fungsinya mengayomi masyarakat. Hanya saja mungkin inilah yang bisa maksimal mereka lakukan. 

Saya justeru lebih sedih karena ketidakmampuan saya sebagai sesama warga untuk menolong saudara kita. Dan akhirnya? Ya, cuma hanya bisa berdoa. Berdoa semoga bencana ini secepatnya berlalu, semoga para korban tabah dan tidak sampai berkurang keimanan dan ketaqwaan nya. Juga semoga siapapun yang punya tanggung jawab untuk mengayomi mereka bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

Dengan husnudzan (baik sangka) bahwa semua yang bertanggung jawab telah melaksanakan kewajibannya secara maksimal, maka tinggal kepada Allah Subahnahu wa Ta’ala lah lagi kita berserah diri (bertawakal). Hanya kepadaNyalah tempat kita menohon pertolongan, bukan kepada yang lain. Ya, hanya dialah yang berkuasa atas alam ini. 

Mau presiden, menteri, gubernur, walikota, camat, RT, hingga individu diri kita masing-masingpun, semuanya juga mintanya kepada Allah. Kita mahluk hanya disuruh berikhtiar, berbuat sesuai tugas kita masing-masing. Bila kita sudah berusaha semampunya mengerjakan tugas kita, insya Allah kita akan bebas dari tanggung jawab di akhirat kelak. Namun bila kita lalai bahkan khianat dengan amanat yang dibebankan di pundak kita, maka semua akan menjadi urusan berat nantinya. 

Semoga siapapun yang pernah berjanji untuk membantu masyarakat dalam kampanye, apakah dia pejabat eksekutif maupu  legeslatif diberi kemampuan oleh Allah untuk memenuhi hutang-hutang janjinya tersebut, sehingga tidak lagi dituntut di akhirat kelak. 

Semoga permasalahan banjir Samarinda bisa diatasi oleh pejabat pemerintah maupun legeslatif periode yang akan datang. Semoga kedepan kota tercinta ini bisa menemukan solusi untuk mengatasi bahkan menghilangkan banjir. Dengan kehendak dan pertolongan Allah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dialah yang Maha Kuasa dan Dialah yang membolak-balikkan hati serta nasib manusia.

Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *