Duhai Suami, Kasihilah Istrimu

Sungguh bila kita mau mengamati secara teliti apa yang dikerjakan istri dalam sehari saja, kita pasti akan tak tega untuk berlaku kasar dan menyakiti hatinya.

Mulai bangun tidur di subuh hari, ia sudah mendahului kita menyiapkan aneka kebutuhan diri dan anak-anak. Bahkan terkadang mereka rela belakangan menikmati makanan dan minuman yang sudah dengan susah payah ia buat sendiri.

Apalagi jika istri kita adalah wanita yang juga memiliki pekerjaan, membantu suami mencari nafkah. Sungguh begitu berat beban yang harus disandang oleh pundaknya yang lembut. Kelelahan fisik dan hati kadang tak mereka perdulikan demi bakti pada suami dan cinta kasih pada anak-anak kita.

Belum lagi aktifitas rutin yang sudah ‘lumrah’ dalam tradisi; mencuci pakaian, membersihkan rumah, mengurus anak, hingga melayani aneka kebutuhan kita juga. Tiada waktu yang kosong dari pengabdian sepanjang waktu yang mereka jalani.

Betapa tidak memiliki nurani, ketika kita emosi sedikit, lalu mengeluarkan kalimat yang menyakiti hatinya. Sungguh tak tahu malu, bila memiliki kelebihan rejeki lalu kita membiarkannya kekurangan, sementara diri kita bersenang-senang di luaran.

Saudaraku, semanja dan serapuh apapun perasaan para istri, mereka tetap manusia-manusia perkasa yang sering kita remehkan perannya. Padahal, tanpa mereka mungkin akan banyak hal yang tak mampu kita kerjakan.

Hanya lelaki bejat yang pengorbanan istrinya cuma dianggap angin lalu. Hanya suami tak berperasaan yang membiarkan istrinya galau tanpa memberikan dekapan dan pengayoman.

Meski mungkin kita belum memiliki setumpuk uang untuk menyenangkan dirinya, paling tidak berikan dada dan pundak kita sebagai tempat mereka menumpahkan segala isi hatinya.

Wallahu a’lam
Samarinda 6 Maret 2018

*JENDELA NURANI*
✍  Abdillah Syafei

Abdillah
Abdillah