Saya ingin sedikit ‘menyeracau’ soal cinta. Persoalan yang tak pernah habis dibahas sejak dulu kala hingga hari ini. Telah jutaan orang bicara cinta tak terhitung pula aneka hal terjadi dengan keterlibatan cinta di dalamnya. Mulai cinta yang membawa kemakmuran hingga cinta yang memicu peperangan dan penganiayaan.
Saudaraku…”Percintaan” bisa menjadi hiasan hidup, bisa pula menjadi biang mala petaka. Cinta tulus dalam bingkai ibadah kepadaNya, adalah cinta terindah dan paling romantis yang tiada duanya. Cinta yang bisa memberikan kekuatan jiwa untuk menjadi pribadi lebih bertaqwa.
Sementara cinta yang dibaluti nafsu pang kada menjadi cinta yang hanya memuaskan syahwat dunia semata. Ia berjalan dengan aneka ambisi yang kencang, tidak perduli dengan rambu apapun yang ada di hadapannya. Yang penting, bagaimana hasrat hati terpuaskan, cara apapun ‘halal’ dilakukan.
Cinta di berbagai aspek kehidupan; hubungan lelaki dan perempuan, loyalitas terhadap kelompok dan kebangsaan, totalitas dalam pekerjaan, penghormatan atas tokoh dan panutan, dan aneka hal lainnya yang ada dalam dinamika fana ini, adalah seumpama pedasnya sambal dalam makanan.
Ya, sambal dalam makanan memberikan sedikit rasa pedas menumbuhkan gairah dan ‘nafsu’ makan. Sambal menghasil rasa pedas dan hangat dan membuat makanan semakin lezat. Rasa ini boleh jadi juga membuat kita ketagihan untuk terus menyantapnya. Demikian lah cinta di dunia, ia menjadi peyemangat, pemberi keindahan dan menumbuhkan gairah atas suatu kecenderungan.
Namun ketika sambal itu dimakan melebihi kewajaran karena kita terlena dengan kenikmatannya, ia bisa menjadi penyakit yang justeru menyiksa si penikmatnya. Mulai dari rasa pedas yang tak tertahankan hingga gangguan pencernaan yang menyiksa dan mengganggu ketenangan. Atau bahkan bisa lebih parah daripada itu.
Cinta yang berlebihan, dan cinta yang hanya berorientasi syahwat semata, laksana sambal ‘over dosis’ yang justeru akan menyakiti pemiliknya. Cinta seperti ini adalah kenikmatan yang menjerumuskan, dan kesenangan yang membinasakan.
Namun apabila cinta yang kita berikan kepada dunia ini hanya sebatas jalan untuk meraih kecintaan-Nya, maka cinta tersebut akan membawa kebaikan. Cinta seperti ini memang juga menghanyutkan… Namun ia mengantarkan kita ke dalam samudera kasih dan keridhaan Allah Yang Maha Penyayang.
Kalaupun kemudian kita tenggelam di samudera kecintaan kepada-Nya, kita akan menyelam dalam damai dan indahnya keberkahan. Mereguk sepuas-puasnya lautan keridhoan dan di sanalah berlabuhnya hati orang-orang bertaqwa. Dalam mardhatillah yang kekal tiada berkesudahan…
 
Wallahu a’lam
Samarinda, 2 September 2013
*JENDELA NURANI*
(Abdillah Syafei)
❤❤❤❤
**************
Untuk membaca catatan-catatan motivasi Abdillah syafei mari bergabung di chanel.berikut:
Telegram:
https://t.me/joinchat/AAAAAEPW9hAcvKKl5cS2Jg
Fanpage:
https://www.facebook.com/abdillah.syafei/
Facebook:
https://www.facebook.com/syafei.samarinda
Bloger:
gurusyafei.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *