JENDELA NURANI: Berlomba-lomba meraih kekayaan adalah sebuah kebaikan. Namun hendaknya harta itu tidak menjadi tujuan. Ya, kekayaan hanyalah sarana agar kita lebih mudah beramal, baik amal dunia terlebih lagi amal akhirat.
Harta kekayaan memang akan memberikan aneka kenyamanan dan kemudahan dalam urusan. Hal ini karena hampir seluruh aktifitas manusia membutuhkan biaya. Bahkan ibadah ritual semacam shalat sekalipun butuh sarana yang harus dibeli menggunakan uang (harta).
Pada akhir jaman kelak manusia harus menyediakan harta untuk menegakkan urusan agama dan urusan dunianya. (HR. Ath-Thabrani)

Meski demikian kita juga harus menyadari bahwa harta kekayaan adalah bagian dari rejeki yang sudah diatur oleh Allah berapa perolehan manusia tentangnya. Rejeki kita sudah dijatahkan oleh Nya sehingga apa yang kita lakukan dalam mengejar harta tak lebih dari ikhtiar untuk menerima jatah tersebut.
Artinya, kita harus menanamkan kesadaran di dalam diri bahwa berikhtiar maksimal, memburu kekayaan adalah sebuah ‘kebolehan’ namun bagaimanapun hasil nantinya kita juga tak boleh kecewa sebab semua telah dijatahkan-Nya. Harus seimbang antara HARAPAN dan KERELAAN menerima kenyataan.
Kita harus sadar bahwa tak selalu kerja keras (kerja ngoyo?) pasti menghasilkan harta yang banyak. Dan tak selalu ‘kerja santai’ tidak menghasilkan harta yang berlimpah. Semua yang kita lakukan hanyalah melaksanakan kewajiban untuk bekerja dan berusaha. Berapa rejeki yang menjadi jatah kita hari ini, itu adalah hak Dia untuk memberikannya.
Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu: Sesungguhnya Allah Taala mengutus seorang malaikat di dalam rahim. Malaikat itu berkata: Ya Tuhan! Masih berupa air mani. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal darah. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal daging. Manakala Allah sudah memutuskan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka malaikat akan berkata: Ya Tuhan! Diciptakan sebagai lelaki ataukah perempuan? Sengsara ataukah bahagia? Bagaimanakah rezekinya? Dan bagaimanakah ajalnya? Semua itu sudah ditentukan dalam perut ibunya. (Shahih Muslim No.4785)
Saudaraku, penting untuk kita ingat juga bahwa limpahan harta bukan jaminan kebaikan. Jika manusia tak bersyukur dan tak menggunakan hartanya di jalan taqwa, tak mustahil harta tersebut justeru menjadi penyebab kesengsaraan dan keburukan.
Sesungguhnya uang dinar dan dirham ini telah membinasakan orang-orang sebelum kamu dan di masa yang akan datang pun akan membinasakan. (HR. Ath-Thabrani)
Marilah giat bekerja berikhtiar menggapai rejeki dan keberkahan-Nya. Semoga dengan ikhtiar yang baik dan sesuai dengan aturan Allah, Dia memberikan yang terbaik buat kita, sebab kebaikan dan keberkahan itulah yang lebih kita butuhkan daripada sekedar banyaknya jumlah harta yang dimiliki.
Apa yang sedikit tetapi mencukupi lebih baik daripada banyak tetapi melalaikan. (HR. Abu Dawud)
Selaku mukmin mukmin kita tentu berharap bahwa segala amaliah duniawi kita menjadi ladang pahala bagi akhirat kita, tak hanya untuk memuaskan nafsu duniawi kita. Untuk itu, nilai-nilai kebaikan dan ‘aura’ pengabdian (ibadah) selayaknya menjadi hal dominan dalam hidup, termasuk dalam ikhtiar mencari rejeki.
Dengan begitu kita akan menjaga diri agar tak terjatuh dalam perbuatan haram yang dilarang oleh agama. Kita hanya berikhtiar menggunakan cara-cara yang halal yang diizinkan oleh sang Pencipta kehidupan yang Maha pemberi rejeki.
Percayalah bahwa Allah tak akan salah alamat dalam memberikan rejeki kepada hamba-Nya. Tidak akan tertukar rejeki seseorang dengan rejeki orang lain. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa rejeki itulah yang ‘mengejar’ manusia sebagaimana kematian mengejarnya.
Sesungguhnya rezeki mencari seorang hamba sebagaimana ajal mencarinya. (HR. Ath-Thabrani)
Selayaknyalah kita menjadi hamba yang bersyukur atas segala nikmat rejeki yang telah Allah berikan kepada kita. Yang penting selama ikhtiar telah maksimal kita lakukan, do’a-do’a telah dengan tulus dan penuh harap kita panjatkan, kita tinggal menata hati dengan rasa syukur, sabar dan qona’ah untuk menerma seberapapun rejeki yang Dia berikan.
Mohon ma’af jika ada salah dan khilaf. Semoga Allah memberikan kekuatan dan keteguhan kepada kita untuk giat bekerja., memberikan ketabahan serta rasa syukur kepada kita dalam menerima hasil usaha tersebut. Dan semoga segala rejeki yang Allah berikan membawa berkah kebaikan untuk dunia dan akhirat kita.. Aamin
Wallahu a’lam
Samarinda 13 September 2013
(Abu Muhammad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *