Hal istimewa yang saya pelajari dari kepribadian bupati Kutai Timur, H. Ismunandar adalah kesederhanaan dan gaya merakyat beliau yang begitu terasa. Alami, apa adanya dan tidak terkesan dibuat-buat. 
Dalam kesehariannya ketua umum Kerukunan Bubuhan Banjar Kaltim (KBBKT) ini begitu bersahaja. Penampilannya biasa saja, tutur katanya ramah kepada siapapun, gayanyapun tidak tampak sebagai pejabat yang haus penghormatan.  
Ini bukan mengada-ada. Saya mengamati perilaku dan tindak-tanduk beliau sudah hampir setahun. Dan baru berani menuliskan penilaian ini setelah membersamai beliau dalam perjalanan (safar) pekan lalu. 
Ya, menurut Sayidina umar kita baru bisa menilai kepribadian seseorang itu bila pernah melakukan safar bersamanya dan pernah berurusan soal uang dengan orang tersebut. Selebihnya tentu pengamatan, cerita orang dan sumber informasi lain bisa dijadikan tambahan. 
Sekedar tambahan informasi, sebelum membersamai beliau belusukan ke ujung pedalaman Kutai Timur saya sudah beberapa kali berurusan dengan beliau yang berkaitan dengan uang. Dan beliau jelas sekali sangat dermawan. Diantaranya ketika saya dipercaya menjadi panitia kurban KBBKT idul adha lalu. 
Sesungguhnya kesuksesan mengumpulkan sejumlah hewan korban khususnya sapi bukan karena kerja kami selaku panitia namun lebih karena bantuan beliau yang mensuport pengadaan hewan korban melebihi dari yang mampu kami kumpulkan dari masyarakat dan tokoh lain. 
Kembali ke roadshow di pedalaman Kutai Timur. Sebagai orang biasa, saya yang bukan siapa-siapa ini saja diperlakukan dengan penuh keramahan. Kehadiran saya sebagai seorang da’i begitu diberikan pelayanan yang sangat istimewa. Padahal, sekali lagi saya bukan siapa-siapa. 
Tidak ada keistimewaan yang bisa beliau ambil dari saya. Kalau cuma soal jadi pendakwah, masih banyak ustadz, kiyai, bahkan para Habaib yang lebih tinggi ilmunya dan lebih terkenal popularitasnya. 
Tapi demikianlah, seseorang itu akan terlihat kemuliaan akhlaknya ketika dia memuliakan siapapun yang ada di hadapannya sebagai hamba Allah bukan sebagai orang yang sekedar dibutuhkan. Dan itu yang terlihat dari akhaq H. Ismunandar kepada orang biasa termasuk saya.
Saat mengikuti rombongan beliau melintasi berbagai daerah di Kutim misalnya, saya melihat bahwa beliau blusukan bukan semata-mata ingin membangun penciteraan untuk meraih popularitas agar terpilih kembali dalam pemilihan kepala daerah mendatang.
Kehadiran beliau di berbagai wilayah, hingga yang terpencil sekali benar-benar lahir dari kepeduliannya pada masyarakat pedalaman. Tidak banyak rombongan yang mengawal beliau. Bahkan kemarin waktu saya ikut, tidak ada awak media yang meliput berbagai kegiatannya. Padahal banyak hal yang beliau lakukan yang bila diberitakan oleh media akan mendongkrak penciteraannya. 
Hanya ada postingan di facebook beliau yang sempat terpantau. Itupun cuma dengan bahasa formal yang singkat serta apa adanya. Tidak ada ulasan yang berisi narasi penciteraan. Dan saya percaya beliaupun memposting itu adalah semata sebagai tanggung jawab moral agar rakyatnya tidak buruk sangka saat mengetahui sang bupati jarang di kantor. Karena beliau jarang dikantor bukan disebabkan membolos kerja namun justeru tengah terjun langsung ke lapangan menemui rakyatnya. 
Benar saja, dimanapun rombongan bersinggah baik memang sedang ada cara yang terjadwal maupun sekedar mampir makan, shalat atau beristirahat, curhat dan keluh kesah masyarakat beliau layani dengan penuh kesabaran. Satu persatu masalah yang diceritakan rakyatnya beliau tanggapi dengan solusi yang menentramkan atau minimal mengurangi kegundahan mereka. 
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’aa memberikan ke Istiqomahan keada beliau agar tetap menjadi pemimpin yang amanah dan selalu berjuang buat kesejahteraan seluruh warganya… Aamiin.
Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *