Bila Tekanan Jiwa Melanda

“Katakanlah, ‘Sesunguhnya Allah Tuhan-ku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS.As Saba:39)

Banyaknya kasus kriminalitas mau tidak mau harus diakui sebagai tanda tingginya tingkat stres di masyarakat kita. Tingkat stres sendiri belum tentu disebabkan oleh kemiskinan atau tekanan ekonomi, meskipun tekanan ekonomi juga menjadi salah satu penyebab utama stres yang menghasilkan kekalutan hidup.

Berapa banyak kita lihat, orang yang hidupnya terlihat enak, kaya, mobilnya mewah, rumahnya besar dan gaya hidupnya tampak elit, namun ternyata jiwanya tidak tenang. Hutang ribanya menumpuk, rumah tangganya tak harmonis, hidup dalam kejaran debt collector. Walhasil kenyamanan hidup hanya ada dalam penampilan, sementara hati selalu dalam kesusahan. Tingkat stres sangat tinggi bahkan mungkin melebihi tekanan hidup seorang pengemis yang tidur di bawah kolong jembatan.

Demikian pula dengan profesi dan level kehidupan lainya. Setiap kita punya masalah yang bisa membuat jiwa tidak tentram, emosi cepat meningkat dan cenderung melakukan tindakan-tindakan tak rasional, hingga yang melanggar norma adat, hukum, dan agama.

Saudaraku… Siapapun dia pasti punya masalahnya masing-masing. Yang menyebabkan masalah itu menjadi pemicu stres adalah kondisi jiwa yang ‘tidak siap’ untuk menghadapinya. Kebingungan terhadap sikap apa yang harus diambil, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana mencari solusi adalah hal yang membuat orang semakin berat tekanan pikirannya.

Jika tak tahan dengan aneka tekanan itu,  orang lalu cenderung hilang kontrol dan melakukan hal-hal tak berguna, bahkan cenderung membahayakan. Baik membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Celakanya lagi kekalutan jiwa yang akut bisa menyebabkan orang mudah marah dan melampiaskannya dengan cara yang tidak benar dan kepada orang lain yang tidak tepat.

Akhirnya tindak kriminalitas mudah terjadi di jaman yang penuh dengan sumber-sumber pemicu stres dan kegalauan ini. Apalagi dalam era materialistis saat ini, tuntutan hidup kadang tak melulu soal kebutuhan namun sudah banyak yang berorientask gengsi. Penampilan dan gaya hidup terasa sangat penting. Akibatnya banyak diantara kita yang demi gengsi dan penamipilan itu tidak menyesuaikan dengan kemampuan.

Solusinya? Selain berupaya menjauhi ataupun menghilangkan sumber pemicunya, kita juga harus memperkuat kekebalan jiwa terhadap  pengaruh-pengaruh pemicu kekalutan itu. Dan itu hanya bisa didapat dengan menjadikan jiwa kita sebagai jiwa yang bertauhid. Hanya jiwa yang bertauhid, yang berikhtiar karena Allah lalu menyerahkan segala hasil ikhtiar itu secara total dalam tawakal, batin akan merasakan tentram yang sesungguhnya. Jikapun kita belum bisa sekuat dan setangguh yang diharapkan, paling tidak kekalutan hati dan tekanan jiwa yang dialami tak sampai berujung pada pemuasan melalui tindakan-tindakan dosa.

Tauhid yang kokoh di dalam jiwa juga membuahkan sikap sabar, qonaah serta ridh dengan apa yang sudah Allah berikan dalam khidupan. Tidak penting gaya dan gengsi. Yang penting hidup damai meski dalam kesederhanaan dan apa adanya. Sehingga hal-hal pemicu stres dan tekanan emosi bisa dihindari semaksimal mungkin.

Dari Shuhaib Ar-Rumiy Radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda, “Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan ia bershabar, maka yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. [HR. Muslim]

Wallahu a’lam

(Abdillah Syafei)

Abdillah
Abdillah