Bersyukurlah, Karena Allah Tidak Langsung Menghukum

JENDELA NURANI: Saudaraku yang kucintai karena Allah… Kita tak bisa membayangkan apa jadinya seandainya Allah langsung memberikan hukuman kepada para pelaku dosa. Apalagi jika jika hukuman itu berupa kebinasaan (pelenyapan). boleh jadi dalam waktu singkat manusia di dunia ini akan habis. Mengapa begitu? Ya, karena tidak ada manusia yang bersih dari dosa.
Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb Yang Maha Penyayang. Dengan kasih sayang-Nya manusia pendosa sekalipun selalu diberi kesempatan untuk memperbaiki diri melalui taubat dan perpindahan amal dari keburukan kepada kebaikan. Dengan kasih sayang-Nya manusia ditangguhkan azabnya  agar sempat bertaubat dan memperbaiki dri. Ini yang lebih banyak terjadi.

“Dan kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi ini satu makhluk melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Faathir: 45)
Selayaknya manusia bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun banyak diantara kita yang lupa diri setelah mendapatkan ‘leringanan’. Banyak diantara kita yang tak berterima kasih setelah mendapatkan penangguhan hukuman, hingga akhirnya terus melakukan kesalahan bahkan kesalahan tersebut bertambah banyak dan besar.
Orang-orang bodoh yang tak tahu terima kasih malah enggan memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepadanya. Kesempatan untuk memperbaiki diri malah digunakan untuk kian tenggelam dalam dosa dan kesalahan.
Padahal seandainya mereka mau menyadari bahwa kehidupan akhirat adalah tempat kembali yang abadi, mereka tentu akan menggunakan watu penangguhan hukuman dengan  sebaik-baiknya. Apalagi Allah Yang Maha Pengampun mejanjikan ‘pembersihan’ dan pembatalan hukuman sekiranya manusia mau bertaubat sebelum kematian menjemput.
Sesungguhnya Allah menerima taubat hambaNya selama nyawa belum sampai ke tenggorokan. (HR. Ahmad)
Selayaknya kita yang telah berbuat dosa membayangkan betapa berat azab yang disediakan bagi dosa yang tak diampuni. Kita bisa membayangkan, bagaimana api dunia yang panas, atau bagaimana kabut gunung berapi yang bernama ‘wedus gembel’ yang dengan panasnya yang tinggi bisa meluluh lantakkan apapun yang dilaluinya. Padahal panas terkecil di neraka masih jauh lebih dahsyat dari api dan panas di dunia ini.
Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi  disebutkan bahwa seandainya dua butir ‘kerikil’ neraka saja diletakkan di telapak kaki seseorang, maka otomatis otak orang tersebut mendidih. Ini adalah hukuman paling ringan, bagaimanakah dengan hukuman atas dosa-dosa besar? Sungguh tak terbayangkan betapa beratnya azab neraka itu.
Azab yang paling ringan di neraka pada hari kiamat ialah dua butir bara api di kedua telapak kakinya yang dapat merebus otak. (HR. Tirmidzi)
Jangan sampai kita  menyangka bahwa dengan tidak diazab di dunia berarti ia selamat dari hukuman. Sungguh sekecil apapun dosa yang dikerjakan di dunia pasti akan ‘dilihat’ hasilnya di akhirat kelak. Allah tidak pernah tidur, lalai, ataupun lupa. Segala yang manusia kerjakan tercatat dengan lengkap di sisi-Nya tanpa dikurangi ataupun ditambah.
Hanya taubatlah yang akan menghapus dosa sekaligus menghapus hukuman yang sedianya akan diterima di akhirat.  Dan Allah Sang Maha Pengampun selalu membukakan pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang berdosa.
Sesungguhnya Allah merentangkan tanganNya pada malam hari memberi kesempatan taubat bagi pelaku kesalahan pada siang hari dan merentangkan tanganNya pada siang hari memberi kesempatan taubat bagi pelaku kesalahan pada malam hari, sampai kelak matahari terbit dari Barat (hari kiamat). (HR. Muslim)
Maka, jika hingga hari ini kita masih belum dihukum karena kejahatan yang pernah kita lakukan, kita harus beryukur kepada-Nya karena masih diberi kesempatan untuk ‘menghapus’ catatan hitam amaliah dan memperoleh ampunan dari hukuman (azab) yang seharusnya diterima karena perbuatan dosa kita.
Mari kita manfaatkan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bertaubat atas segala dosa dan memperbaiki amaliah kita.  Semoga  Allah menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang kelak kembali menghadap dalam keadaan bersih dari dosa.
“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tiada Tuhan kecuali Engkau. Engkau Penciptaku dan aku hambaMu yang tetap dalam kesetiaan dan janjiku sepanjang kemampuanku. Aku kembali kepada-Mu dengan kenikmatan dan kembali kepada-Mu dengan dosaku. Maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada pengampun dosa-dosa kecuali Engkau.” Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengucapkan doa itu dengan penuh keyakinan pada siang hari dan ternyata wafat pada hari itu sebelum senja maka dia tergolong penghuni surga. Barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan dan wafat sebelum subuh maka dia tergolong penghuni surga pula.” (HR. Bukhari)
Wallahu a’lam
(07/01/2014)
Abdillah
Abdillah