JENDELA NURANI: Berperang adalah jalan terakhir dalam ‘membela diri’ manakala kita disakiti, dan diserang. Berperang bukanlah karakteristik umat Islam. Berperang semata-mata untuk membela diri. Selama orang di luar kita tidak memerangi kita atau malah berbuat baik kepada kita, maka pantang kita menyakiti mereka apalagi sampai memerangi dan membunuhnya.
Sungguh peperangan yang berimplikasi pada pembunuhan merupakan jalan yang tidak dianjurkan. Benar bahwa mati syahid saat berperang merupakan sebuah kemuliaan dan menjadi jaminan bagi kita untuk meraih surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun untuk sampai pada kondisi perang tersebut tidak sederhana. Tidak boleh sembarangan menarik pelatuk senapan atau melemparkan tombak dan lembing kepada sesama manusia.

Ada syarat, hukum dan aturan yang teramat ketat hingga kita dibolehkan menumpahkan darah sesama manusia. Dan Islam mengajarkan hukum-hukum perang bukan lantaran Islam adalah agama perang, namun karena Islam memberi sayarat ketat yang membolehkan kita untuk sampai pada keadaan tersebut.
Justeru karena Islam adalah agama damai yang membenci peperangan hingga persoalan perang begitu diperhatikan dan dibuatkan aturan yang detil lagi lengkap.
Boleh Berperang Hanya Kepada Mereka yang memerangi kita. Itupun tak boleh berlebihan atau melampaui batas:
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (al-Quran, 2:190)“
Tidak Boleh Membunuh Jiwa yang diharamkan Allah untuk membunuhnya karena dosanya sangat besar. Membunuh seorang manusia sama beratnya dengan membunuh seluruh manusia. demikian pula sebaliknya memelihara kehidupan seorang manusia laksana memelihara kehidupan seluruh umat manusia:
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. (al-Quran, 5:32)“
Muslim sejati tidak memaksakan agamanya kepada orang lain. Kebenaran dan kesesatan adalah pilihan hidup, yang penting masing-masing manusia harus siap dengan konsekuensi dari pilihan hidupnya:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al- Quran, 2:256)“
Dalam ayat lain disebutkan: “ Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. (al- Quran, 18:29)“
Adalah realita yang menjadi sunnatullah bahwa manusia itu ada yang beriman dan ada yang tidak, kita harus menerima kenyataann itu. Kita tak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain agar beriman kepada Tuhan kita.
“ Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (al-Quran, 10:99)“
Tugas Rasul (tentu tugas kita juga) dalam dakwah hanyalah menyampaikan. Kita tak boleh melalaikan tugas untuk menyampaikan kebenaran yang kita Imani kepada orang lain. Namun di lain sisi kita memberikan kebebasan kepada orang tersebut apakah mau mengikuti agama kita atau tidak
“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An Nur:54)“
Demikianlah sebagian dari ajaran Islam tentang perang, pebunuhan, hingga penyebaran dakwah kebenaran kepada manusia. Ini hanya sebagian dari begitu luasnya samudera Ilmu keislaman yang menunjukkan betapa Islam adalah agama mulia yang mengajarkan hanya kebaikan dan kemuliaan kepada umat manusia.
Wallahu a’lam
Samarinda 11 September 2013
(Abu Muhammad Syafei)
——————————–
Mohon maaf jika ada tersalah, baik salah ketik maupun salah makna.
Semoga Allah mengampuni saya dan memberikan hidayahnya… Sehingga saya dapat memperbaiki kesalahan dan kekeliruan saya… Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *