Benarkah Kita Sudah Berdakwah?

Kita kadang senang bahkan bangga saat bisa mencela kesalahan orang atau kelompok lain yang tak sefaham dengan mazhab kita. Berhasil membuktikan bahwa orang lain salah dan kita benar menjadi kebanggaan dan serasa bahwa tugas dakwah sudah selesai.
Saudaraku, ini bisa jadi merupakan tipuan iblis. Kita telah dibelokkan dari visi dan misi dakwah yang sebenarnya. Hingga dalam kebenaranpun berhasil iblis bisikan perasaan ‘menang’ dan berbangga dengan kemenangan itu sebagai sebuah keberhasilan.
Padahal, keberhasilan dakwah itu bukanlah sebatas saat kita bisa mematahkan argumen sesama muslim ataupun non muslim yang tak sepemahaman dengan kita.
Padahal kesuksesan dakwah itu bukan saat kita bisa mempermalukan lawan debat kita hingga dia terdiam dan tak bisa membantah keilmiahan argumen kita.
Padahal kemenangan itu bukanlah saat kita dipuji oleh banyak manusia karena keenceran otak kita dalam bersilat lidah dan membungkam lawan bicara.
Kesuksesan dakwah itu adalah kala kita bisa memberikan teladan bagaimana kebenaran itu diamalkan, dan kita mampu meyampaikannya kepada orang yang tak sefaham dengan baik dan ushlub (metode) yang indah.
Jika menangnya debat hanya membuat mereka yang tak sefaham dengki. Jika kemampuan mematahkan argumen mereka hanya mendatangkan dendam dan antipati. Bahkan mempermalukan lawan bicara membuat mereka semakin benci dengan kebaikan. Maka itu justeru KEGAGALAN dakwah yang fatal.
Bukankah mereka adalah sesama kita yang ingin kita luruskan manhaj beragamanya? Bukankah mereka adalah objek dakwah yang ingin kita pikat hatinya? Bukankah mereka adalah saudara kita yang (seharusnya) kita cintai karena Allah? Dan kita ingin mereka sama-sama menikmati indahnya hidayah ini?
Lalu jika yang dihasilkan adalah dendam, kebencian dan kedengkian terhadap kebenaran…. Dimanakah nilai dakwah kita selama ini?
Benar bahwa hidayah adalah HAK Allah, dan tidak ada yang bisa memaksakannya kepada manusia. Benar bahwa tugas kita hanyalah menyampaikan kebenaran, soal orang mau terima atau tidak itu adalah urusan dirinya. Benar pula bahwa kita tidak mungkin menyenangkan semua manusia, pasti ada saja yang tidak suka.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah: Sudah seberapa benarkah kita meneladani Rasulullah Shalallahu alaihi wa Salam dalam berdakwah? Sudah seberapa sabarkah kita dalam menapaki jalan kebenaran? Ataukah kita selama ini hanya memuaskan hati dengan ‘membantai’ kebebalan objek dakwah, dan bukan mengajak dengan hikmah?
Semoga Allah Jalla wa a’la memberikan kesabaran dan kelembutan hati dalam kita menapaki dakwah menyampaikan kebenaran kepada sesama insan…
Aamiin
Abdillah
Abdillah