BELAJAR DARI MENTARI

JENDELA NURANI: Sahabat, Matahari yang terbit hari ini adalah matahari yang kemarin juga. Dia setia menjalankan tugasnya khusus untuk ‘menyapa’ kita setiap hari. Kalaupun terkadang kita tak melihat dia, itu bukan karena dia malas atau lalai akan tugasnya, itu hanya karena ada awan atau kabut yang menghalangi sinar sang mentari.

Demikianlah pula semestinya diri kita. Mungkin setiap hari harus selalu bergelut dengan rutinitas yang itu-itu juga, tugas yang itu-itu juga dan ‘ritual’ yang itu-itu juga. Kita pun harus tetap bersemangat memancarkan optimisme dan menebarkan karya terbaik kita. Tak perduli apakah karya positif kita itu akan terlihat oleh orang lain, ataukah terhalang oleh apapun yang menyebabkan ia tak ‘diakui’ oleh orang lain, karya tetap karya, kebaikan tetaplah kebaikan, dan ia akan menguntungkan kehidupan kita.

Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, seseorang melakukan amal (kebaikan) dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya (merasa senang).” Rasulullah Saw berkata, “Baginya dua pahala yaitu pahala dirahasiakannya dan pahala terang-terangan.” (HR. Tirmidzi)
Di sinilah keikhlasan itu diuji. Di sinilah ketulusan itu dijajal. Di sinilah pengabdian itu mendapatkan pembuktiannya. Apakah semua yang kita lakukan adalah sebagai sebuah ibadah yang hanya berharap ridho-Nya, ataukah memiliki tendensi lain yang membebani hati?
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (hadits Qudsi): “Hai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku menghindarkan kamu dari kemelaratan. Kalau tidak, Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan kerja dan Aku tidak menghindarkan kamu dari kemelaratan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Sebagaimana sang mentari, makhluk Allah yang tak pernah berhenti melaksanaan tugasnya hingga kelak kiamat tiba, ‘berputar’ setiap hari di garis edarnya menyinari apa yang perlu disinari dan membakar apa yang perlu dibakar. Ia tak pernah lalai sedetikpun. Ia tetap memancar meski bagaimanapun cuaca di bumi saat itu.
Mari bekerja dan berkarya semampu kita karena itu adalah ladang amal kebajikan dan sarana memperoleh kemuliaan, baik kemuliaan di hadapan manusia maupun kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap tarikan dan hembusan nafas, tiap detak jantung dan denyut nadi, tiap detik yang kita lalui, jangan sampai dalam kesia-siaan. Semua harus memberi arti sebagai sebuah ibadah.
Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)
Mohon maaf jika ada salah kata… Mari jalani  hari ini dan hari-hari lain yang dianugerahkan Allah kepada kita dengan semangat menggebu untuk mengabdi kepada-Nya…
Wallahu a’lam
13/01/2014
Abdillah
Abdillah