Kita punya kawan dari berbagai kelompok dan aliran padahal kita menganggap bahwa faham kita lah yang benar dan faham mereka salah. Demikian pula ‘seharusnya’, masing-masing mereka juga menganggap keyakinan mereka yang paling benar. Tapi dengan itu semestinya kita tetap bisa hidup damai, saling menghargai dan bekerjasama dalam urusan sosial dan keduniawian.

Bahkan dengan kesadaran seperti itu sebenarnya kita bisa jauh lebih harmonis.

Soal keyakinan kita tak boleh ragu. Soal keimanan masing-masing kita harus merasa apa yang kita imani adalah yang paling benar. Kalo masih RAGU atau menganggap keyakinan lain yang benar, ya berarti itu nggak BERIMAN dong namanya. Yang namanya Iman itukan meyakini sepenuh hati, bukan setengah-setengah.

Justeru sangat berbahaya saat dengan alasan menghargai keyakinan orang lain lalu masing-masing saling mengorbankan keyakinannya. Itu malah sama-sama rugi kan?

Yang penting adalah adab dan sikap kita dalam menerima perbedaan. Selayaknyalah kita tak mencaci maki keyakinan saudara kita meski kita tak setuju dengan keyakinan itu. Seharusnyalah kita tak saling menghalangi masing-masing kita dalam mengaktualisasikan keyakinannya, baik itu dalam bentuk peribadatan maupun seremonial lainnya. Bukankah dengan gak saling mengganggu semua jadi merasa nyaman?

Justeru kalau masing-masing menahan diri dari ibadahnya karena alasan nggak enak sama teman yang beda keyakinan, itu merugikan semua pihak. Bukannya semua menjadi baik. Malah akhirnya pola pikir seperti itu menyebakan semuanya ‘durhaka’ pada keyakinan masing-masing.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *