Bahayanya Belajar Agama di Dunia Maya

JENDELA NURANI: Bolehkah copy paste dari google (baca: internet) untuk mempelajari agama? Tentu boleh saja, karena memang tidak ada yang melarang. Namun yang jelas hal tersebut berbahaya. Mengapa? Karena di dunia maya tak hanya kebenaran yang ada, kesesatan dan penyesatan juga berseliweran. Laksana petir dan kilat yang berkelebatan, ajaran SESAT siap menyambar dan menghanguskan AQIDAH umat Islam yang dikenainya.

Apalagi para penyeru kesesatan sangat pandai menyerupa dan mencitrakan diri mereka sebagai penyeru kebaikan. Argumen yang disusun terlihat sangat masuk akal, ilmiah, bahkan sangat kuat, sangat mungkin menipu “otak” kaum awam sehingga mereka terpengaruh.

Padahal apa yang disampaikan para pengususng kesesatan sejatinya adalah manipulasi dengan bahasa-bahasa yang terkesan indah dipikiran kaum awam sehingga mereka terpengaruh “syubhat” (kerancuan berfikir) dan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran.

Kita boleh saja berkata: “Ah, rasanya nggak bakalan saya terpengaruh ajaran sesat. Akal saya pasti bisa berfikir dan logika saya pasti bisa menganalisa jika ada yang tak beres.”

Itulah perasaan… sesuatu yang tidak memiliki ukuran pasti dan selalu berubah di setiap keadaan. Perasaan sangat sulit dijadikan ukuran sebuah kebenaran. Demikian pula akal pikiran, tak selalu bisa mencerna logika yang disuguhkan di hadapan kita. Boleh jadi akal menyangka sesuatu itu logis, padahal sesuatu tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Mungkin soal logika dan kebenaran ini akan lebih mudah kita fahami dengan perumpamaan “dunia SULAP”. Mari perhatikan bagaimana seorang pesulap melakukan atraksi yang terlihat sangat nyata. Akal kita mungkin akan berkata bahwa apa yang dilakukan si pesulap pasti benar-benar terjadi. Manusia sewajarnya pasti tak bakalan mampu melakukan ‘kejaiban” tersebut.

Itu logikanya orang yang tidak mengerti ilmu sulap. Tapi bagi kita yang menguasai seluk beluk dunia persulapan, kita mungkin akan tertawa melihat pesulap memainkan atraksinya dan logika kita akan sangat mudah menerima bahwa yang diatraksikan adalah hal yang sangat masuk akal bahkan biasa-biasa saja.

Nah, di sini tergambar bahwa suatu hal -apalagi yang bersifat manipulasi- sangat sulit jiika difahami dengan logika umum. Harus ada ilmu yang khusus untuk bisa memahami hal-hal yang bersifat khusus pula. Demikian halnya dengan agama. Ilmu agama tidak sedemikian mudah difahami dan sangat rentan disesatkan ketika kita mempelajarinya hanya bermodal sumber-sumber yang tidak jelas seperti internet.

Kecuali kita telah mendapat bimbingan atau arahan dari guru-guru yang terpercaya tentang mana situs yang berbahaya dan mana yang tidak. Namun dengan jumlah situs yang tak terbatas di dunia maya, resiko penyesatan akan terus ada.

Sangatlah bagus sekiranya kita mengkonfirmasikan apa-appa yang kita temukan di dunia maya (apalagi soal agama) kepada para guru yang kita ketahui selama ini bisa dipercaya (tsiqoh). Atau kita meminta bimbingan kepada lembaga-lembaga (organisasi) keagamaan yang sudah jelas trackrecordnya. Yang bersifat umum, kepada MUI misalnya, sebuah lembaga yang di dalam, kepengurusannya mewakili aneka organisasi dan madzhab Islam yang tidak ‘sesat’.

Saudaraku, dunia maya itu seperti hutan rimba yang di dalamnya banyak pohon, hewan dan buah-buahan. Jika tak dibimbing ahlinya kita sulit membedakan mana hewan berbisa dan mana yang tidak. Demikian pula buah nya, kita tak bisa membedakan mana buah yang beracun dan mana yang bisa dimakan. Boleh jadi buah yang terlihat indah warnanya serta menggiurkan justeru bisa mematikan jika dikonsumsi.

Wallahu a’lam
 
(Samarinda 4 Januari 2014)

Abdillah
Abdillah