Puluhan tahun, sejak masih kuliah saya termasuk orang yang tidak suka berkelompok. Dulu saya merasakan bahwa berkelompok akan membuat saya mengkotakkan diri. Apalagi sudah mafhum, bahwa antar kelompok atau ormas biasanya ada pesaingan dan ketidakharmonisan dalam hubungan. 
Pendek kata, dulu saya ingin sendiri saja berkarya dengan apa yang saya bisa. Berkelompok justeru menjadi hal yang ‘menakutkan’ bagi saya. Sebab dari banyak kelompok yang saya ‘singgahi’ dalam perjalanan dakwah saya, rata-rata mereka mengklaim kebenaran sendiri dan meremehkan kelompok lain.
Namun… Belakangan saya sedikit berubah pikiran. Ya, sejak kasus penistaan agama yang berujung pada reaksi persatuan umat dari aneka kelompok. Ditambah pula dengan berbagai fakta masifnya gerakan aliran sesat maupun kelompok anti agama yang terindikasi ingin menguasai negeri ini, saya kini berpandangan bahwa setiap umat Islam harus mulai berkelompok.
Maksud saya berkelompok disini adalah bergabung dalam suatu jamaah. Apakah itu ormas, yayasan, atau hanya sebuah komunitas pengajian. Pokoknya tidak sendirian. Karena sendirian rentan dijangkiti penyakit “kebingungan”,  baik kebingungan soal kebenaran informasi maupun kebenaran tindakan untuk menyikapinya. Belum lagi bicara kekuatan, sendirian jelas tidak kuat serta mudah diperdaya musuh.
Berjamaah, apapun nama jamaahnya, selama bukan aliran sesat atau kelompok yang suka memusuhi kelompok lain, masih jauh lebih baik dibanding bersendirian. Silahkan disesuaikan dengan kecenderungan madzhab yang kita yakini. Yang penting tetap kita jaga toleransi dan hubungan baik dengan sesama muslim.
Kita berjamaah bukan untuk menciptakan ke-taashuban dan kefanatikan, tapi untuk menjaga pergaulan agar selalu berada di lingkungan orang-orang yang sama-sama peduli pada agama. Alhamdulillah aksi bela Islam pertama hingga ketiga sukses menguji ego umat ini untuk tetap bersatu dalam ikatan ‘tali’ agama Allah tanpa harus meninggalkan kelompok jamaah dan ormasnya masing-masing. Ya, karena kelompok dan ormas tak lebih hanya sebagai washilah (sarana) untuk kita menegakkan agama Allah. Kelompok dan ormas hanya menjadi tempat mengorganisir perjuangan membela agama Allah.
Saudaraku… Aliran sesat dan kafir komunis sudah mulai menampakkan taringnya. Mereka tengah mengincar kita dan generasi kita. Maka kita harus berkumpul dan berkelompok justeru agar kuat dan memiliki kawan seperjuangan serta seperjalanan. Sehingga para “serigala” jahat tersebut berpikir seribu kali untuk memangsa kita.
Sebanyak apapun umat kita, jika berpencar dan tak mau berjamaah, maka tidak akan memiliki kekuatan. Laksana buih yang terombang-ambing gelombang lautan, atau bagai butiran pasir yang bercerai-berai beterbangan tertiup angin.
Padahal jika kita mau bersatu dengan semen perekat berupa aqidah yang kuat, niscaya kita tak lagi berupa pasir, namun laksana bongkahan-bongkahan batu yang keras yang tak mudah dihancurkan. Meskipun bongkahan itu banyak jumlahnya. Dan jika kita telah menjadi bongkahan-bongkahan yang solid, kita akan lebih mudah disusun menjadi bangunan ataupun benteng yang kokoh.
Wallahu a’lam
24/12/2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *