Selamat hari senin. Mari.mengawali pekan di akhir tahun ini dengan tetap merasa bahagia. Yang belum merasa bahagia, mari mencari seribu satu alasan agar bahagia itu bisa hadir di hati kita meski boleh jadi aneka masalah tengah kita hadapi saat ini.
Lagi pula kalau masalah hidup selalu menjadi alasan buat tidak bahagia, lalu apa ada manusia yang hidupnya tidak punya masalah? Semua orang pasti punya masalah, tinggal bagaimana ia menyikapi masalah tersebut, itu yang mempengaruhi kondisi hati. 
Setiap orang mungkin punya persepsi yang berbeda soal hakikat kebahagiaan, oleh karena itu sangat wajar bila masing-masing orang juga punya asumsi yang tidak sama tentang bagaimana cara meraih kebahagiaan tersebut. 
Contoh kecil, misalnya ada yang beranggapan bahwa bahagia itu adalah ketika ia bisa unggul dan orang lain terlihat rendah di hadapan dirinya. Dia berasumsi bahwa hatinya akan menjadi senang (bahagia) bila ia bisa merendahkan orang lain dan mengunggulkan dirinya dari siapapun. Puas rasanya bila melihat orang lain membutuhkan dia atau bahkan jatuh martabat hingga tunduk menghamba padanya. 
Maka orang yang memegang prinsip seperti ini boleh jadi akan mencari kebahagiaan dan kesenangan dengan cara mencari aib atau kekurangan orang lain, lalu nyinyir bahkan mencaci maki kekurangan tersebut. 
Walhasil, kesehariannya (termasuk di media sosial) disibukan dengan mencari, mengulas, mengkritik bahkan memperhinakan kekurangan orang lain. Bila dia menemukan infornasi soal aib orang maka ia seperti menemukan makanan yang sangat lezat. 
Sementara itu manusia yang lain lagi mungkin saja mempunyai persepsi soal hakikat bahagia sebaliknya. Menurut mereka bahagia itu adalah kondisi dimana jiwa kita tentram karena tak bersinggungan dengan pikiran-pikiran negatif. Bahagia itu adalah ketika kita bisa ‘menciptakan’ perasaan nyaman di hati orang lain. 
Orang versi kedua ini tentu akan berusaha mencapai rasa bahagianya dengan banyak-banyak mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu hewaninya. Dia akan berupaya mengisi hari-harinya dengan niat, ucapan, dan tindak-tanduk yang menyenangkan orang lain.
Bilapun ia mendengar soal keburukan orang lain, maka ia tanggapi dengan baik sangka. Bila ia memang benar-benar menemukan keburukan orang lain itu nyata maka ia akan mencarikan alasan untuk memakluminya seraya tentunya membantu orang yang buruk itu meninggalkan kesalahannya. 
Dalam berucap dan berbuat ia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti hati orang lain. Sebaliknya ia berupaya menjadikan ucapan dan tindakannya menjadi jalan kebahagiaan dan kebaikan manusia manapun. 
Ia juga gemar menutupi aib orang lain dan tidak bergembira dengan tersebarnya keburukan sipapun. Doanya selalu memohonkan kepada  Allah agar siapapun saudara sesama manusia selalu mendapat hidayah sehingga dikeluarkan dari keburukan dan dikekalkan dalam kebaikan. 
Wallahu a’lam
Samarinda 30 Desember 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *