Apakah Allah Butuh Ditolong?

Kadang ada orang yang (maaf) seolah jadi ahli tafsir mengatakan bahwa “Allah itu Maha Kuasa, nggak butuh pertolongan…”

Benarkah pernyataan itu?

Ya, perkataan itu sangat benar. Bahkan aslinya perkataan tersebut merupakan keyakinan Tauhid yang tinggi. Namun masalahnya perkataan yang benar ini sering diletakkan bukan pada tempatnya dan dibumbui dengan ‘penyesatan logika’. Karena ujung-ujung perkataan ini dijadikan hujjah untuk mempengaruhi orang agar tidak berjuang menolong agama Allah.


Padahal menolong Allah (agamaNya) adalah perintah Allah sendiri:

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya : “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)

Dan logika bahwa Allah tidak butuh pertolongan lalu kita jangan menolong agamaNya, adalah logika yang tak mengena sama sekali dengan masalah ketuhanan. Karena menolong agama Allah bukanlah untuk kebutuhan Allah namun kebutuhan kita selaku hamba yang teramat berhajat pada pertolonganNya.

Perjuangan menolong agama Allah adalah ujian bagi kita apakah kita Cinta kepadaNya ataukah tidak?. Dalam hubungan dengan sesama mahluk saja, bila kita cinta pada seseorang kadang kita dengan rela dan senang hati mengerjakan pekerjaan orang tersebut meski kita tahu ia bisa mengerjakannya sendiri.

Apalagi dalam konteks hamba dengan Tuhannya. Maka menolong Allah sejatinya adalah aplikasi dari totalitas kecintaan dan kesetiaan. Sama sekali bukan KEBUTUHAN Allah. Kalaupun di dalamnya ada azas kebutuhan, maka itulah kebutuhan kita terhadap Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak.

Ath Thobari mengatakan bahwa makna dari “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.” Yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menolong orang-orang yang berperang di jalan-Nya agar kalimat-Nya tinggi terhadap musuh-musuh-Nya. Maka makna pertolongan Allah kepada hamba-Nya adalah bantuan-Nya kepadanya sedangkan makna pertolongan hamba-Nya kepada Allah adalah jihad orang itu dijalan-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya.” (Tafsir At Thobari juz XVII hal 651)

Jihad (perjuangan) itulah aktualiasasi dari pengabdian kita kepadaNya. Berjuang membela agama Allah, ketika agama itu diserang dan dilecehkan merupakan bagian penting dari pengabdian dan bukti kecintaan kepada Nya. Bagaimana mungkin seorang hamba mengaku cinta, sementara ia berdiam diri dan tak merasa terganggu saat Allah dan agamanya dihina?

Saudaraku seiman, Allah memang tidak butuh ditolong. Namun kitalah yang BUTUH untuk menolong agama Allah. Kitalah yang diuntungkan dari aktifitas menolong tersebut. Ya, karena kehidupan dan kematian itu sejatinya hanyalah cobaan agar kita membuktikan siapa diantara kita yang paling baik amalnya.

Namun demikian berjihad (berjuang) menolong agama Allah tentu juga memiliki cara, metode dan tahapan sesuai kondisinya. Dan semua memiliki kaidah-kaidah syar’i yang harus diikuti. Ada masanya kita berjihad dengan lisan kita, ada waktunya kita berjihad dengan harta kita dan ada kondisi dimana keadaan ‘memaksa’ kita berjihad dengan jiwa dan raga. Dan untuk memastikan kita sedang berada di posisi mana, kita butuh bimbingan ulama.

Wallahu a’lam

Samarinda, 14 Oktober 2016
(Abdillah Syafei)

Abdillah
Abdillah