Apa Urusan Saya dengan Postingan Orang Alin?

“Bosen, aurat terus dibahas!” ujar seseorang mengomel dalam statusnya. Sementara dia sendiri gemar memposting gambar-gambar yang terbuka aurat bahkan cenderung erotis di beranda medsosnya.

“Sok alim, ceramah ustadz terus dishare,” ujar yang lain lagi. Padahal dia sendiri sering share hal-hal melanggar syari’at dalam postingannya.

“Dasar riya, nyumbang kok difoto-foto. Kayak nggak iklas gitu beramal.” ujar postingan lain pula. Padahal di berandanya dia sibuk menyalahkan orang-orang yang katanya nggak punya kepedulian selama ada bencana.

Tiga ungkapan di atas hanya perumpamaan saja, alias fiktip. Cuma sebagai gambaran bagaimana sebuah inkonsistensi kadang terjadi. Dimana kita bisa saja tak suka dengan postingan orang lain padahal kita sendiri memposting hal sejenis.

Begiti juga soal corona. Tak sedikit yang ngomel-ngomel di beranda memprotes orang yang rajin menyampaikan perkembangan wabah dan mensosialisasikan anjuran ulama. Padahal yang protes sendiri setiap hari gemar memposting atau bekomentar menyerang kebijakan pemerintah dan fatwa-fatwa ulama soal topik yang sama.

Jadi, kadang kita marah kepada postingan orang lain itu bukan karena topiknya tidak kita sukai, tapi lantaran kebenaran yang disampaikannya tak sesuai dengan harapan dan perasaan kita. Nyatanya kita sendiri juga suka posting hal yang sama hanya versinya saja yang beda.

Padahal jika kita kembalikan kepada hak bermedia sosial, siapapun bebas memposting apapun di berandanya selama bukan informasi bohong (hoax), fitnah, ujaran kebencian dan hal lain yang melanggar hukum.

Bahkan menjadi lucu ketika kita sendiri menyebar sebuah pemahaman namun gusar ketika ada orang lain memposting hal yang sejenis namun dengan pemahaman berbeda. Apalagi bila orang yang kita gusari itu memang sudah sesuai profesi dan kewajibannya untuk memposting itu.

Saya sendiri, termasuk yang banyak memposting hal-hal yang berkenaan dengan wabah corona. Selain karena itu sesuai dengan profesi saya yang berkaitan dengan informasi dan komunikasi, ada rasa tanggung jawab moral juga untuk membuat postingan yang benar saat saya melihat banyak postingan salah (hoax) yang beredar.

Yang penting saya tidak pernah secara lancang menyerang dengan mempermalukan seseorang, atau sengaja berkomentar nyinyir dan kasar di beranda dan postingan orang lain.

Saya selalu menghargai hak orang lain berpendapat dan menyampaikan pemahaman versi mereka masing-masing. Namun tentunya adalah hak saya juga, dengan akun medsos saya sendiri untuk memposting apa-apa yang saya ketahui serta saya yakini kebenarannya.

Di era globalisasi informasi, dan di saat media sosial yang sedemikian meluas ini siapapun tentu berhak membuat konten yang sesuai dengan minat dan kecenderungannya. Selama tidak merugikan orang lain baik secara hukum maupun secara moral tidak boleh dilarang. Justeru menjadi hal naif ketika kita merasa bebas memposting apapun termasuk hoax, namun ngomel-ngomel ketika ada netizen lain yang memposting tentang kebenaran sebuah informasi.

Ya, baik dunia maya maupun dunia nyata adalah tempat semua orang bersosialisasi sekaligus menyebarkan ide, harapan, motivasi maupun pemahaman serta keyakinannya. Yang penting, sekali lagi, tidak melanggar ketentuan hukum yang berlaku.

Beberapa minggu lalu misalnya, ada seorang kawan (kenal di medsos) yang dulu saya lihat pemahamannya soal wabah corona berbeda dengan saya. Postingan-postingan dia meski tak menunjuk atau menyerang langsung namun menyampaikan argumen yang terkesan berbeda dengan fatwa ulama yang saya ikuti.

Bagi saya pribadi hal ini bukan masalah. Biasa saja terjadi perbedaan pendapat baik di kalangan awam maupun ulama. Kebetulan kawan medsos saya ini seorang Ustadz yang tentunya beliau sangat paham ilmu agama. Jadi bilapun dalam beberapa hal ia tidak sepemahaman bagi saya tak ada masalah sama sekali.

Rupanya dalam sebuah kegiatannya beliau bepergian jauh. Entah untuk keperluan apa yang jelas ke luar daerah dimana sehabis kepergian itu, saat kembali dia harus menjalani karantina.

Suatu ketika saya tak lagi melihat status-statusnya. Eh, ternyata pertemanan kami sudah diputuskannya. Saya tidak mempermasalahkan. Karena memang saya yakin bagi orang-orang yang pemahamannya sama dengan kawan ini (termasuk dia sendiru) akan merasa sangat terbantah dengan argumen-argumen dan info-info valid yang saya share di beranda saya.

Benar saja, ternyata beberapa waktu kemudian saya dapat info kalau si ustadz memutuskan pertemanan dengan saya bukan karena ada masalah pribadi. Dia hanya merasa syok dan tidak tahan membaca postingan saya. Meski saya tidak pernah mengomentari postingannya dan tidak pernah menyerang langsung pemikirannya namun fakta-fakta yang saya share sudah otomatis membantah klaim-klaim kebenaran yang mungkin kemarin diyakininya.

Ya, begitulah manusia. Sebagian kita lebih menginginkan pembenaran dibanding kebenaran. Kita merasa senang bila kesalahan kita menemukan “dalil” untuk membenarkannya. Padahal kadang antara apa yang ingin kita carikan pembenarannya dengan dalil (dalih?) yang dipakai sangat tidak nyambung.

Terusterang saya adalah orang yang paling tidak suka berdebat. Ketika saya melihat ada postingan orang lain yang menurut saya salah dan berpotensi menyesatkan banyak manusia, maka saya enggan membantah dengan berkomentar di postingan tersebut. Saya menghargai hak orang berpendapat dan menyebarkan pendapatnya kepada siapapun. Dan saya tak ingin mengganggunya dengan komentar kontra. Biarlah teman-teman sepemahmannya yang berkomentar menyenangkan baginya.

Namun sebagai orang yang merdeka tentu saya juga berhak dong memaparkan kebenaran versi saya (yang saya yakini) dan mempostingnya di beranda saya sendiri, tanpa harus menandai orang yang tidak sepaham. Tinggal orang lain saja (kalau kebetulan ada yang membaca) berpikir benar ataukah tidak argumentasi saya? Yang penting saya tidak bersengaja men-tag yang bersangkutan.

Kalau setuju silahkan diikuti. Kalau tak sependapat ya teruslah dengan apa yang anda yakini. Yang penting apa yang kita yakini itu memiliki dasar yang kuat dan valid. Selebihnya mari kita hidup dengan keyakinan kita masing-masing dan bersedia menerima konsekuensinya. Yang penting tentu kita harus konsisten dengan dengan pilihan kita.

Soal corona tadi misalkan, kalau memang kita percaya bahwa ini adalah wabah berbahaya, ya harusnya kita ikuti dengan tindakan nyata. Yakni dengan menjalankan standar prosedur kesehatan sebagaimana yang disarankan pihak yang berwenang.

Sebalinya bila memang kita yakin bahwa isu corona ini hanya rekayasa yang dibesar-besarkan, maka mestinya juga kita konsisten dengan tuduhan itu. Nggak usah takut dan nggak perlu syok baca berita-berita korban corona. Jalani saja hidup sebagaimana biasa toh berita-berita itu kita yakin hanya bohong. Ngapain dipikirkan?

Karena ada orang yang mengatakan bahwa sesunguhnya “nggak ada itu bahaya corona”. Berita soal corona hanya alat buat menakut-nakuti msyarakat. Corona itu fitnah dajjal untuk menjauhkan umat dari masjid. Bahkan saya pernah membaca komentar di media sosial yang dengan kasar menyebut ulama kita sebagai ulama dajjal, pasca MUI mengeluarkan fatwa beberapa waktu lalu.

Nah, bagi yang yakin kalau isu corona itu sebenarnya hal yang dibesar-besarkan saja bahkan sebenarnya tidak ada, harusnya konsisten dengan tuduhannya. Mestinya nggak perlu takut dengan corona apalagi cuma dengan berita medsos yang nggak jelas.

Namun sayangnya kadang kita ini tidak konsisten, tak sejalan antara ucapan dengan tindakan. Di medsos dan di dunia nyata koar-koar menuduh coroba itu hanya omong kosong, namun nyatanya marah-marah dan ketakutan membaca postingan orang lain soal wabah yang dia katakan tidak ada itu. Padahal orang posting di beranda sendiri dan tidak menandai kita.

Contohnya kawan yang saya ceritakan tadi. Sudah dianjurkan untuk tidak ke luar pulau namun tidak digubris. Anjuran pemerintah dan ulama nggak dianggap. Namun begitu mendengar kabar kalau kawan-kawannya banyak yang terduga corona, eh dia malah ketakutan sampai paranoid dengan info-info yang biasa sekalipun soal covid 19. Sampai-sampai akhirnya menghapusi banyak pertemanan facebook.

Nah, soal konsistensi dan konsekuensi ini menurut saya yang harus kita jaga. Adapun mengenai tema postingan orang lain di beranda medsosnya selama bukan hoax, tidak melanggar susila dan hukum negara, apa urusannya kita marah-marah? Kalau merasa kita benar ya tinggal bikin postingan versi kita juga. Biarlah fakta nanti yang akan menguji kesahihan pendapat kita masing-masing.

Yang penting mari bermedsos dengan damai dan saling menghargai pendapat masing-masing. Percayalah bahkan sampai haria kiamat tinggal satu haripun manusia di muka bumi ini pasti akan selalu berbeda pendapat. Kalau berharap semua orang akan sepaham dengan kita dalam segala hal pasti kita tidak akan pernah menemukannya.

Atau kalau kita memang sudah nggak tahan juga melihat postingan orang lain yang ternyata secara tudak langsung mengungkap kesalahan versi kita dan kita tak siap meneimanya. Gampang, tinggal lakukan seperti Ustadz kawan saya tadi, putuskan pertemana. Beres.

Saudaraku, setiap netizen itu punya kecenderungannya masing-masing dalam membuat postingan. Hal itu tentu dilatarbelakangi oleh pendidikan, profesi, hobi, maupun kondisi yang sedang terjadi. Makanya facebook sendiri kan selalu bertanya di beranda kita setiap kita akan membuat postingan, “Apa yang anda pikirkan?”

Wallahu a’lam

Abdillah
Abdillah