Sesusah-susahnya kita, masih punya hari libur. Ya, walaupun libur kita mungkin hanya beristirahat di rumah karena tak punya uang buat plesiran ke objek wisata. Tidak masalah, karena dengan beristirahat dan berkumpul dengan keluarga serta kerabat kasih sayang meningkat dan kedamaian hati insya Allah akan didapat.
Ayo syukuri semua itu, sebab kalau kita melihat ke bawah atau bahkan ke atas sana, masih banyak orang lain yang lebih miskin ataupun yang lebih kaya, namun tidak punya waktu bersantai sejenak seperti kita.
Mungkin karena kehidupan mereka yang teramat miskin hingga tiap detik dari usianya habis hanya buat bekerja. Atau sebaliknya, mereka kaya raya, namun telah ‘diperbudak’ oleh bisnis dan hartanya. Dan mungkin ada juga yang selevel dengan kita namun tetap ‘kipuh’ (sibuk dan kalangkabut) karena diperbudak oleh gaya hidup.
Ya, kenyamanan hidup memang tak selalu identik dengan harta. Karenanya memang banyak orang miskin yang hidupnya susah, namun tak sedikit pula orang kaya yang batinnya menderita.
Ada orang yang dimata manusia karirnya cemerlang, bisnisnya besar dan pesat berkembang. Dia ditokohkan di masyarakat. Namun sayang, ia sangat jarang berkumpul dengan anak dan istrinya. Kasih sayang diantara mereka telah tergantikan hanya dengan transferan sejumlah uang. Selebihnya hanya bisa saling telpon dari tempat yang berjauhan. Dalam rentang waktu lama karena tinggal berbeda kota bahkan negara.
Ada pula orang biasa yang pekerjaanya hanya menjadi tukang sapu taman. Namun sepulang bekerja di tengah hari, ia berkebun dan berkolam ikan ditemani istri dan anaknya. Saat ayah dan bundanya bekerja, si anak bermain riang di antara pohon dan sayuran. Kada mereka makan bersama di pondok kebun. Sorenya, pulang ke rumah seraya bercanda mesra menanti azan magrib tiba.
Namun yang membuat hati ini teriris, saya pernah pula menyaksikan beberapa buruh bangunan yang sedang mengerjakan renovasi sebuah masjid, tak jauh dari rumah saya. Kerja mereka berat, tubuh mereka lusuh dan kotor. Tampak sekali gurat beban berat di wajah mereka. Sungguh sayang, saat azan berkumandang tak sedikitpun mereka tergerak untuk memenuhi panggilan ilahi. Mereka hanya berhenti bekerja saat orang ramai menunaikan shalat. Lumayan, kesempatan buat beristirahat mungkin.
Kondisi yang nomor tiga ini sungguh sangat memprihatikan. Urusan dunia mereka saja masih jauh dari kata nyaman, urusan ahkhirat pula mereka lalaikan. Ya, saya sungguh berharap, semoga hanya saya saja yang tak melihat jika sebenarnya mereka shalat juga tapi menunggu orang banyak selesai.
Pasalnya, dulu saat masih kuliah saya pernah ikut bekerja seperti ini, menjadi buruh bangunan sebuah madrasah di Samarinda. Saat itu sebagian besar pekerja memang tidak mengerjakan shalat. Hanya ada beberapa yang tetap menyempatkan beribadah kepada Rabbnya. Bahkan ada diantara kawan saya itu yang mengaku bahwa uang hasil kerja kerasnya selama seminggu malah habis dalam beberapa menit di kamar gelap perempuan malam. Mudahan ia hanya membual, bukan kisah sebenarnya.
Sahabat dan kerabat. Kembali ke soal bahagia. Kondisi itu hanya bisa diciptakan dalam perasaan terutama perasaan syukur yang mendalam pada rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa ta’ala serta dari sifat qonaah menerima dengan senang hati hasil usaha yang telah Dia berikan.
Bahagia sangat identik dengan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mau dia kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata, bangsawan atau hamba sahaya, bila tiada rasa syukur di hatinya maka jangan pernah berharap bisa meraih bahagia.
Semoga jiwa dan raga kita senantiasa dibimbing oleh Allah agar selalu menjadi pribadi yang bersyukur dan qona’ah. Lalu Dia istiqomahkan kita dalam kondisi itu hingga menjemput husnul khatimah… Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.
Wallahu a’lam
Samarinda 09/02/2020
Penjelajah Waktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *