Antara Ambisi dan Kebahagiaan

Sahabat yang budiman, mari kita syukuri kehidupan yang hari ini masih Allah anugerahkan pada diri kita. Itu artinya kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat atas segala dosa dan memperbanyak amal sholeh untuk bekal menghadapi kematian kita. Mari jalani kehidupan dunia ini dengan ikhtiar maksimal, namun jangan memiliki ambisi yang berlebihan.
Selain akhirat itulah yang sebenar-benarnya tujuan, ambisi berlebihan atas dunia justeru bisa membuat sulitnya manusia meraih kebahagiaan.
Binatang yang tak memiliki akal saja bisa menjalani hidupnya dengan mengalir justeru karena ia tak punya ambisi melebihi batas nalurinya. Ekspektasi (harapan) mereka tak muluk-muluk sehingga kekecewaan mereka juga tak ada. Mereka hanya bergerak, berbuat dan menjalani alur taqdir begitu saja hingga batas kehidupan dunia menghentikan langkahnya.
Berbeda dengan manusia, meski dilengkapi dengan akal, budaya dan teknologi yang tinggi… Namun ambisi, harapan bahkan kemaruk duniawi kadang sedemikian tinggi. Jika tidak dikontrol dengan iman yang kuat, maka ia akan selalu tak pernah puas, tak pernah cukup dan akhirnya tak pernah bahagia.
Meskipun jabatannya setinggi langit, meski makanannya yang paling lezat, meski hartanya bertumpuk dan berlipat-lipat, meski kemewahannya teramat ningrat. Meski kecantikan dan ketampanannya sangat memikat. Semua selalu ingin diperbesar dan meningkat.
Sebenarnya kekayaan, pangkat dan jabatan, serta jasmani yang rupawan bukanlah kehinaan. Ia adalah anugerah yang bisa mengantar pada kebahagiaan. Namun jika salah menempatkan, ia bisa pula menjadi biang kehancuran. Semua kembali kepada diri. Seberapa bijak kita menata hati.
Hati… Ya, hati kitalah yang mengkondisikan diri. Bila hati berpasrah pada Ilahi, ridha dengan taqdirNya dan menjalani hidup tanpa ambisi berlebih. Bekerja dan berbuat sebatas ikhtiar saja. Tentu ia akan ridha dengan apa yang ditetapkan Allah Jalla wa a’la.
Kemiskinan bukan hal yang menyakitkan, justeru membuat jiwa semakin dekat kepada Tuhan, makin bersyukur karena tak menanggung banyak beban (amanah). Bisa makan, tidur nyenyak dan mesra dengan keluarga sudah mendatangkan kebahagiaan.
Karena yang lebih utama adalah saat hidup bisa beribadah dengan tentram dan membangun generasi dalam jalan kebenaran, jalan Islam yang penuh kemuliaan. Disitulah hidup yang kekal abadi di akhirat sana dipersiapkan.
Wallahu a’lam
22/12/2016
 
JENDELA NURANI
(Abdillah Syafei bin Abdul Shamad)
Abdillah
Abdillah